Skip to content
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size blue color orange color green color Sign In

Matematika IPB

Beranda arrow Akademik arrow S-1 Matematika arrow Karya Ilmiah Alumni
 
Data Tesis
 
Judul : MODEL DISTRIBUSI BAHAN AJAR UNIVERSITAS TERBUKA DAN IMPLEMENTASINYA
Jenis :
Penulis : Sitta Alief Farihati
NRP : G551060341
Tanggal Lulus : 08 May 2010
Tanggal Seminar :
Tanggal Sidang :
Pembimbing : Dr. Ir. Amril Aman, M.Sc.
Ir. Ngakan Komang Kutha Ardana, M.Sc.
Prof. Dr. Toni Bakhtiar, M.Sc.
Ringkasan : Universitas Terbuka (UT) merupakan perguruan tinggi negeri yang menerapkan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) di Indonesia. Penerapan PTJJ pada sistem pendidikan UT menyebabkan sistem UT berbeda dengan sistem institusi pendidikan tatap muka. Salah satu perbedaan sistem tersebut adalah adanya Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ)-UT yang tersebar di 37 kota di seluruh Indonesia dengan Kantor Pusat UT berada di Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Salah satu tugas UPBJJ-UT adalah mendistribusikan bahan ajar UT ke mahasiswa. Persediaan bahan ajar UT di UPBJJ-UT terkait dengan sistem distribusi bahan ajar UT. Sampai saat ini UT melaksanakan sistem distribusi bahan ajar terpusat. Distribusi bahan ajar secara terpusat tersebut tidak efisien. Dalam penelitian ini, akan dikaji sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat yang menempatkan gudang di UPBJJ-UT tertentu sebagai lokasi penyimpanan dan penyuplai bahan ajar. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah masalah lokasi fasilitas berkapasitas (capacitated facility location problem) yang digabungkan dengan masalah penentuan kendaraan (vehicle decision problem). Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan model distribusi bahan ajar tidak terpusat yang menempatkan gudang antara Kantor Pusat UT dengan UPBJJUT di seluruh Indonesia, (2) menentukan lokasi gudang antara Kantor Pusat UT ke UPBJJ-UT di seluruh Indonesia yang meminimalkan biaya distribusi bahan ajar, (3) menentukan UPBJJ-UT yang disuplai oleh setiap gudang dan (4) membandingkan efisiensi antara sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat dengan sistem distribusi bahan ajar terpusat. Penelitian ini dibagi menjadi empat tahap, yaitu (1) pendeskripsian dan formulasi masalah, (2) pemodelan, (3) solusi model dan (4) implementasi model. Pada tahap pemodelan, masalah distribusi dimodelkan sebagai masalah linear mixed integer programming. Model tersebut kemudian diselesaikan dengan menggunakan metode Branch and Bound dengan bantuan software Lingo 8.0. Implementasi model dilakukan dengan cara menyimulasikan model dengan menggunakan data koordinat geografi bumi, data perkiraan permintaan bahan ajar Pendidikan Dasar UT per tahun dan data biaya pengiriman berdasarkan subkontrak tahun 2008. Pada tahap pendeskripsian, diberikan tiga sistem distribusi bahan ajar, yaitu sistem distribusi bahan ajar terpusat (yang saat ini dilaksanakan oleh UT), sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 dan alternatif 2 (yang diusulkan dalam penelitian ini). Sistem distribusi bahan ajar terpusat menempatkan percetakan dan gudang terpusat di Kantor Pusat UT. Dalam sistem ini pengiriman dilakukan langsung dari Kantor Pusat UT ke UPBJJ-UT. Sedangkan, sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 menempatkan percetakan terpusat di Kantor Pusat UT dengan gudang terpilih berada di UPBJJ-UT tertentu yang berfungsi sebagai lokasi penyimpanan dan penyuplai bahan ajar ke UPBJJ-UT terdekat. Gudang-gudang tersebut akan menempati lokasi yang sama dengan UPBJJ-UT terpilih. Pada sistem ini, percetakan bahan ajar terpusat di Kantor 5 Pusat UT sehingga di Kantor Pusat UT terdapat gudang utama yang akan memasok gudang terpilih. Sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2 menempatkan percetakan tidak terpusat di Kantor Pusat UT, sehingga ditempatkan percetakan dan gudang di UPBJJ-UT tertentu yang berfungsi sebagai lokasi penyimpanan dan penyuplai bahan ajar ke UPBJJ-UT terdekat. Percetakan dan gudang akan menempati lokasi yang sama dengan UPBJJ-UT terpilih. Sistem distribusi bahan ajar terpusat dimodelkan sebagai model I, sedangkan sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 dan alternatif 2 dimodelkan sebagai model II dan model III. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 menempatkan gudang terpilih di Palembang, Jakarta, Bogor, Surakarta dan Majene, sedangkan sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2 menempatkan gudang terpilih di Pekanbaru, Jakarta, Malang, Majene dan Ternate. Analisis hasil simulasi ketiga sistem dilihat berdasarkan total biaya operasional untuk satu kali pengiriman, keseluruhan permintaan bahan ajar tahun 2008 dan kelipatannya. Satu kali pengiriman adalah jumlah minimal permintaan bahan ajar dalam satu tahun. Total biaya operasional meliputi biaya distribusi, biaya percetakan dan biaya penggudangan di gudang utama. Biaya distribusi meliputi biaya pengiriman, biaya penggudangan di gudang terpilih dan biaya penalti. Berdasarkan total biaya operasional untuk satu kali pengiriman diperoleh bahwa sistem distribusi bahan ajar terpusat paling murah dibandingkan kedua sistem distribusi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa jika jumlah permintaan seluruh UPBJJ-UT merupakan jumlah minimal pengiriman dalam satu tahun maka sistem distribusi bahan ajar terpusat masih menguntungkan bagi UT. Berdasarkan total biaya operasional untuk keseluruhan permintaan bahan ajar tahun 2008 dan kelipatannya diperoleh bahwa total biaya operasional sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 paling besar dibandingkan kedua sistem distribusi yang lain. Sedangkan total biaya operasional sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2 paling murah dibandingkan kedua sistem distribusi yang lain. Komponen biaya dalam total biaya operasional yang menyebabkan sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 1 paling mahal adalah biaya pengiriman dan biaya penggudangan. Adapun penyebab total biaya operasional sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2 paling murah adalah biaya pengiriman dan biaya penggudangan. Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2, yaitu sistem yang menempatkan percetakan dan gudang di UPBJJ-UT terpilih untuk melayani UPBJJ-UT terdekat, merupakan sistem yang total biaya operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan sistem distribusi bahan ajar terpusat. Meskipun permintaan bahan ajar semakin lebih banyak daripada permintaan tahun 2008, sistem distribusi bahan ajar tidak terpusat alternatif 2 tetap lebih murah dibandingkan kedua sistem distribusi yang lain. Kata kunci : model, distribusi bahan ajar terpusat, distribusi bahan ajar tidak terpusat, gudang

Random Quotes

Kebenaran tak akan lapuk.

anonim